Ruangan ini putih semua. Hanya ada sebuah lorong menuju satu pintu.
Kususuri lorong itu, meraba kanan dan kiri. Hampa. Kosong
Selangkah demi selangkah ku lalui dengan terseok. Kemana kah suara.
Aku tak dengar apa-apa.
Tiba di depan pintu. Aku terdiam sejenak. Saat aku berbalik, tak ada lagi jalan yang ku lalui tadi. Semua yang putih itu, berganti gelap, suram...
Kembali ku tatap pintu di hadapanku. Engsel dan pegangan yang berkarat.
Kubuka perlahan. Penuh tanda tanya.
KRIEETT....!!!
BAM...!!!
Pintu itu seketika terbuka lantas berdentum keras. Aku mendapati sebuah ruang kecil, memiliki 4 dinding. Tiada apa-apa dalam ruangan itu. Selain sebuah kaca tua.
Kaca berbentuk telur selebar jendela. Tepinya terbuat dari kayu, berukirkan mawar berduri.
Aku mendekati kaca itu. Makin lama, makin dekat. Tampaklah sebuah bayangan.
Wanita picik nan munafik. Ia ada di sana.
Tertawa penuh amarah...
Berkisah penuh dusta...
Menangis penuh tawa...
Amarahnya penuh duka...
Topeng yang wanita itu pakai begitu tebal, hingga sekop pun tak mampu melepasnya..
Ia di sana wanita yang ku benci.
Melihat nya aku ingin mencaci... aku berteriak sekuat tenaga.
Ku pukul keras bayangan itu. Ia tertawa melihatku.
Tiba-tiba...
Di tengah teriakan itu, seketika kaca itu retak.
Perlahan...
Lalu pecah berkeping.
PRANGG... !!!
Kaca berserakan...
Lalu, dari balik kegelapan itu, muncul sesosok tanpa wajah menyembul keluar.
Ia terkekeh, seraya mengkeram pundakku.
Ia dekatkan wajahnya yang datar ke arah wajahku.
Aku meronta tak karuan. Namun, cengkeramannya begitu kuat.
Wajahnya makin menempel, nafasku mulai sesak.
Makin lama, kaki ku ikut kebas. Aku lunglai tak berdaya.
Selanjutnya...
Gelap, hening...
----------
Aku terbangun di suatu pagi. Bukan lagi di ruangan putih.
Namun di sebuah kamar di dalam rumah yang begitu asri.
Ku pandangi sekeliling, begitu hidup.
Lalu, aku menoleh ke arah jendela, di sampingnya ada sebuah kaca.
Saat aku berdiri di sana, hanya ada seorang wanita.
Wanita tanpa topeng, tanpa seringai.
Aku menyukainya.
*****
Se Sang
Dokumen Challenge FB Winda Jubaidah
Kususuri lorong itu, meraba kanan dan kiri. Hampa. Kosong
Selangkah demi selangkah ku lalui dengan terseok. Kemana kah suara.
Aku tak dengar apa-apa.
Tiba di depan pintu. Aku terdiam sejenak. Saat aku berbalik, tak ada lagi jalan yang ku lalui tadi. Semua yang putih itu, berganti gelap, suram...
Kembali ku tatap pintu di hadapanku. Engsel dan pegangan yang berkarat.
Kubuka perlahan. Penuh tanda tanya.
KRIEETT....!!!
BAM...!!!
Pintu itu seketika terbuka lantas berdentum keras. Aku mendapati sebuah ruang kecil, memiliki 4 dinding. Tiada apa-apa dalam ruangan itu. Selain sebuah kaca tua.
Kaca berbentuk telur selebar jendela. Tepinya terbuat dari kayu, berukirkan mawar berduri.
Aku mendekati kaca itu. Makin lama, makin dekat. Tampaklah sebuah bayangan.
Wanita picik nan munafik. Ia ada di sana.
Tertawa penuh amarah...
Berkisah penuh dusta...
Menangis penuh tawa...
Amarahnya penuh duka...
Topeng yang wanita itu pakai begitu tebal, hingga sekop pun tak mampu melepasnya..
Ia di sana wanita yang ku benci.
Melihat nya aku ingin mencaci... aku berteriak sekuat tenaga.
Ku pukul keras bayangan itu. Ia tertawa melihatku.
Tiba-tiba...
Di tengah teriakan itu, seketika kaca itu retak.
Perlahan...
Lalu pecah berkeping.
PRANGG... !!!
Kaca berserakan...
Lalu, dari balik kegelapan itu, muncul sesosok tanpa wajah menyembul keluar.
Ia terkekeh, seraya mengkeram pundakku.
Ia dekatkan wajahnya yang datar ke arah wajahku.
Aku meronta tak karuan. Namun, cengkeramannya begitu kuat.
Wajahnya makin menempel, nafasku mulai sesak.
Makin lama, kaki ku ikut kebas. Aku lunglai tak berdaya.
Selanjutnya...
Gelap, hening...
----------
Aku terbangun di suatu pagi. Bukan lagi di ruangan putih.
Namun di sebuah kamar di dalam rumah yang begitu asri.
Ku pandangi sekeliling, begitu hidup.
Lalu, aku menoleh ke arah jendela, di sampingnya ada sebuah kaca.
Saat aku berdiri di sana, hanya ada seorang wanita.
Wanita tanpa topeng, tanpa seringai.
Aku menyukainya.
*****
Se Sang
Dokumen Challenge FB Winda Jubaidah



0 komentar