Long Journeys, Thousand Stories

Melukis aksara dari ujung pena

  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay Bumi ini memiliki luas 510.1 juta km², tetapi mengapa pertemuan kami harus di tempat ini? Seseorang yang ingin kuhindari bertahun-tahun dengan pergi ke berbagai wilayah, malah tanpa terduga bertemu di tengah ratusan peserta seminar. Wah, takdir memang luar biasa mengejutkan, kadang-kadang.
“Apa kabar, Ren?”
Aku terkesiap sejenak menangkap visual di hadapanku kini. Sinaps otak seolah berjalan perlahan. Mungkin ia mencoba berdistraksi dengan keadaan yang ada. Namun, aku tak bisa mengelak sekarang, tidak di situasi dimana aku menjadi seorang pembicara dan ia adalah pemandu acara seminar buku hari ini.
“Ya? Em-Aku- Aku baik-baik saja. Super baik-baik saja,” ujarku berusaha tersenyum.
“Nggak nyangka sekarang kamu jadi orang hebat. Terkenal di mana-mana dan mampu menjadi inspirasi. Penulis buku dan konsultan pernikahan? Itu adalah profesi luar biasa.”
“Tentu saja. Luka yang aku dapat darimu mampu membuatku tumbuh dan berkembang lebih baik! Apa kau iri?” Kata-kata itu hanya bisa tersimpan mungkin jika suasana dan tempatnya berbeda aku mampu mengatakannya.
“Alhamdulillah, semua butuh perjuangan,” ucapku datar sambil mengalihkan pandangan pada bahan materi.
“Lama nggak ketemu.” Ia bertanya lagi seolah sedang bertanya pada teman lama dan itu membuatku jengah.
“Ngapain juga ketemu kamu?” Lagi-lagi kata itu hanya terlontar dari dalam hati.
“Yah, begitulah. Kita punya kehidupan masing-masing, kan.” Aku berusaha tersenyum setulus mungkin.
“Mungkin setelah ini kita bisa ngobrol-ngobrol sambil ngopi? Sekadar mengenang masa lalu.”
“Oh, maaf sekali. Jadwalku agak padat, mungkin lain waktu.”
“Apakah kau sudah menikah?”
Seolah pertanyaan itulah yang sejak awal ingin ia tanyakan. Jelas saja ia akan penasaran apa yang terjadi padaku kini. Setelah apa yang ia lakukan pada pernikahan kami dahulu, dan bagaimana kerasnya aku mempertahankan ikatan itu, dan dia tetap pergi. Memilih menyudahi semua setelah kami berhasil melalui banyak ujian. Ia justru menyerah ketika bahtera rumah tangga mulai mengarungi lautan yang tenang.
Aku menatapnya tajam. Senyum di bibir seolah tak ingin singgah untuk membuat nyaman lawan bicara. “Yang jelas, kini aku lebih bahagia dan kau tak perlu penasaran.” Ucapku masih dalam hati. Alih-alih menjawabnya, aku memilih untuk segera berdiri sambil memberi kode untuk menyudahi percakapan.
Setengah mati aku berusaha memaksimalkan diri untuk menyampaikan materi dan menjawab semua pertanyaan. Aku tahu, Dimas terus mengarahkan pandangannya kepadaku selama acara berlangsung. Sebuah tindakan menyebalkan dan sukses membuatku sedikit tidak konsentrasi. Harusnya aku ikuti saja intuisi untuk menolak undangan dari kota ini. Benar saja, kejanggalan yang aku rasakan beberapa hari sebelum keberangkatan akhirnya terjawab.
“Baiklah, kita beri tepuk tangan meriah kepada Dr. Rena Santi, M.Psi atas materi yang luar biasa hari ini!”
Tepukan meriah seisi aula membahana sedikit menenangkan. Setelah sesi foto dan tanda tangan aku dan tim segera bersiap untuk pulang. Tiba-tiba, seseorang menarik tanganku dari belakang. Dan, aku refleks menepisnya karena kaget. Beberapa orang memandang kami dan merasakan atmosfer di situ agak berbeda.
“Bisa bicara sebentar?” tanya Dimas memohon, “ada hal penting yang aku tanyakan. Pribadi.”
Aku menghela napas frustrasi. Setelah memberi pengertian pada tim, aku segera mengikuti Dimas.
“Ini adalah kantorku,” ucapnya sambil membereskan beberapa barang yang terlihat berserak di sebarang tempat.
“Cepat katakan apa maumu,” ujarku segera setelah duduk dengan melipat tangan di dada.
Ia menatapku sendu dan tersenyum getir. “Aku mencarimu ke mana-mana, Ren. Aku ingin minta maaf dan ingin memperbaiki semua. Sepertinya Tuhan sedang memberiku kesempatan. Dan --”
“Aku tidak mau memberimu kesempatan.”
Ia tertegun mendengar perkataanku barusan dan berkata, “Tapi, Ren. Aku Belum--”
“Apa? Belum puas membuatku sakit? Selama 7 tahun ini aku berusaha menjalani hidup dan membangun pondasi hati yang sukses kau hancurkan berkeping-keping. Selama kita bersama dahulu, selalu aku yang memberi. Semuanya aku korbankan. Cinta, harta bahkan keluarga! Tapi, apa yang aku dapat sebagai balasan? Dan, sekarang kau ingin kesempatan? Untuk menghancurkannya lagi?”
Napasku menderu. Tidak terasa genangan air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya luruh juga. Ruangan itu seolah semakin sempit dan membuat dadaku sesak. Bayangan masa lalu itu kembali datang adegan demi adegan.
“Maaf, Ren. Aku benar-benar minta maaf. Saat itu nafsu dan setan menguasai aku. Kini aku sudah bertobat.” Aku mengelak saat Dimas maju mengulurkan tangan ingin menyentuh pundakku. Hal yang sering ia lakukan dahulu jika ingin merayu atau membuatku tak marah lagi.
Memang kini aku belum menikah dan membuka hati untuk cinta yang lain. Trauma dikhianati di masa lalu masih membuatku jera untuk membangun rumah tangga baru. Seketika aku sedikit menyesal mengapa belum menikah saat ini. Mungkin semua akan menjadi lebih mudah jika aku sudah tidak berstatus janda. Setelah menenangkan diri aku lalu berdiri dan menatap Dimas tajam.
“Aku anggap pembicaraan kita selesai, Dimas. Aku sudah memaafkanmu dan Mirna. Aku juga berharap kalian bisa hidup bahagia setelah aku pergi. Jujur, dendam dan sakit hatiku sudah lama hilang hingga kita bertemu hari ini. Ingat, Dimas! Kau adalah sepenggal kisah yang tidak ingin aku simpan. Kau juga adalah sepenggal hati yang tidak lagi ingin aku miliki dan sudah aku tinggalkan di tempat kalian mengkhianati kepercayaanku. Maka, sadar dirilah dan jangan mengharapkan sebuah kesempatan.”
Aku pergi dari situ tanpa menoleh ke belakang. Tak peduli lelaki berlesung pipi itu memanggil berkali-kali sehingga beberapa orang mengarahkan pandangan pada kami. Saat ini aku hanya ingin pulang. Entah berapa lama lagi aku harus merawat luka yang kini kembali menganga pada sepenggal hati yang masih tersisa.
.
.
.
Selesai
sumber: piqsel


Seperti hari-hari yang telah berlalu, aku masih di sini. Menunggu ia datang dan bersandar sambil berkeluh kesah. Air Matanya sesekali membasahi, memberi sebuah arti dan sebuah tanya. Akankah ia datang lagi besok?
Dia, wanita yang berpipi kemerahan. Rambutnya ikal berwarna emas. Matanya begitu indah, bukan hitam bukan pula cokelat. Aku pikir mungkin itu warna darah? Ya, cairan yang selalu lewat di bagian pembuluh berserabut, kau pasti tahu. Setiap sore atau malam, ketika kami berdekatan, ia akan menyandarkan kepalanya lagi. Bercerita tentang apa yang ia lakukan tadi pagi atau sekadar berbagi perasaan.“Bang, hari ini aku dikatain gendut dan nggak bisa merawat diri setelah melahirkan anak. Padahal mereka nggak tahu bagaimana repotnya mengurus bayi kembar sendirian. Apa aku harus diet? Tapi nanti ASI-ku malah nggak banyak. Aku beneran gendut dan jelek ya, Bang?” Kata-katanya mengalir pelan, sambil melirik ke arah kamar khawatir bayi-bayinya terbangun.“Ah, nggak usah dipikirin yang begitu. Abang kan nggak permasalahkan itu. Mau kamu gendut, jelek, kan istri Abang. Bukan istri mereka! Sudah sana jangan nempel-nempel gitu, berat!” Wanita itu segera menjauh. Wajahnya menggambarkan banyak hal, tetapi tak mampu ia utarakan lebih lanjut. Bayi-bayinya mulai menangis karena mendengar suara keras sang ayah dari luar. Setelah itu ia tak datang lagi bersandar.Dahulu, sebelum kedua anak bayi itu hadir, wanita itu sering sekali mendekat. Aku suka mendengar ia bercerita, tertawa dan sesekali mengecupku hangat. Wajahnya yang berseri itu benar-benar cantik dan mempesona. Namun, kini hal itu jarang sekali terjadi. Aku pun sudah tidak bisa menghitung berapa waktu yang sudah kulewatkan tanpa melihat wajahnya. Tanpa mendengar suaranya. “Bang, aku hari ini capek banget rasanya. Huh, kenapa sih kerjaan rumah nggak pernah habis?” keluhnya hari ini.“Ah, kamu di rumah cuma makan, tidur dan urus anak-anak! Capek apaan? Itu rumah berantakan dan cucian piring numpuk, kok!” sahut suami terdengar kesal.“Aduh, Abang gimana sih. Anak kita lagi kan aktif-aktifnya. Ini juga baru aku beresin dan cucian piring kan baru aja numpuk setelah kita makan barusan.” Terdengar suaranya memelas.“Halah! Capek mana sama aku yang seharian kerja banting tulang di luar cari uang. Kalo emang capek kenapa badanmu tambah lebar begitu! Capek makan kali! Udah, aku mau jalan dulu! Ada urusan!”
***Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hari ini suasana rumah lebih ramai dari biasanya. Aku tak bisa melihat keadaan di luar karena tertutup baju berwarna hitam. Aku tebak suami sang istri sedang menangis tersedu karena tubuhku seolah bergetar sedari tadi. Aku mulai bertanya-tanya, mana wanita itu, ya? Suaranya tak lagi terdengar. Jujur, aku suka mendengar suaranya.“Kasian, ya. Masih muda padahal.”“Iya, anak-anaknya lucu, loh. Duh, tragis banget nasibnya.”“Aku rasa suaminya tidak memperhatikan dia makanya sampe nekad begitu.”“Aku juga bakal nggak tahan, sih. Tapi, dari pada mati sambil bawa anak, mending aku pulang ke rumah orang tua.”Suara-suara itu bagaikan puluhan duri yang menusuk dari berbagai arah. Aku tak tahu harus berbuat apa, menangis pun tak bisa. Padahal, wanita itu dulu sering berbagi tangis dan tawanya denganku. Ah, andai aku manusia. Andai aku bukanlah bahu, mungkin aku bisa memeluknya bagai manusia yang ada di sekitar sini. Aku, yang hanyalah bahu pun tahu, bahwa wanita itu hanya butuh pelukan dan butuh didengarkan. Bukan dihakimi dan ditinggalkan.
Selesai_
x
x
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

Categories

  • Artikel 2
  • Cerpen 3
  • Flash Fiction 1
  • Puisi 3

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Foto saya
Winda Jubaidah
Berau, Kalimantan Timur, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  Juli (2)
      • Sepenggal Hati yang Tersisa
      • Wanita Berpipi Kemerahan
  • ►  2017 (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (4)

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  Juli (2)
      • Sepenggal Hati yang Tersisa
      • Wanita Berpipi Kemerahan
  • ►  2017 (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (4)

Categories

Facebook

Translate

Advertising

Follow Us

  • 114followers
  • 0followers
  • 0likes
  • 0followers
  • 0subscribers
  • 266followers

Chit-chat

Popular

  • Sepenggal Hati yang Tersisa
  • RUANG BIRU
  • Kala Awan Berbicara

Popular Posts

  • Sepenggal Hati yang Tersisa
  • RUANG BIRU
  • Kala Awan Berbicara
  • Wanita Berpipi Kemerahan

Labels

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template