Long Journeys, Thousand Stories

Melukis aksara dari ujung pena

  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Ruangan ini putih semua. Hanya ada sebuah lorong menuju satu pintu.
Kususuri lorong itu, meraba kanan dan kiri. Hampa. Kosong
Selangkah demi selangkah ku lalui dengan terseok. Kemana kah suara.
Aku tak dengar apa-apa.
Tiba di depan pintu. Aku terdiam sejenak. Saat aku berbalik, tak ada lagi jalan yang ku lalui tadi. Semua yang putih itu, berganti gelap, suram...

Kembali ku tatap pintu di hadapanku. Engsel dan pegangan yang berkarat.
Kubuka perlahan. Penuh tanda tanya.

KRIEETT....!!!
BAM...!!!

Pintu itu seketika terbuka lantas berdentum keras. Aku mendapati sebuah ruang kecil, memiliki 4 dinding. Tiada apa-apa dalam ruangan itu. Selain sebuah kaca tua.
Kaca berbentuk telur selebar jendela. Tepinya terbuat dari kayu, berukirkan mawar berduri.
Aku mendekati kaca itu. Makin lama, makin dekat. Tampaklah sebuah bayangan.
Wanita picik nan munafik. Ia ada di sana.
Tertawa penuh amarah...
Berkisah penuh dusta...
Menangis penuh tawa...
Amarahnya penuh duka...
Topeng yang wanita itu pakai begitu tebal, hingga sekop pun tak mampu melepasnya..
Ia di sana wanita yang ku benci.
Melihat nya aku ingin mencaci... aku berteriak sekuat tenaga.
Ku pukul keras bayangan itu. Ia tertawa melihatku.
Tiba-tiba...
Di tengah teriakan itu, seketika kaca itu retak.
Perlahan...
Lalu pecah berkeping.

PRANGG... !!!

Kaca berserakan...
Lalu, dari balik kegelapan itu, muncul sesosok tanpa wajah menyembul keluar.
Ia terkekeh, seraya mengkeram pundakku.
Ia dekatkan wajahnya yang datar ke arah wajahku.
Aku meronta tak karuan. Namun, cengkeramannya begitu kuat.
Wajahnya makin menempel, nafasku mulai sesak.
Makin lama, kaki ku ikut kebas. Aku lunglai tak berdaya.
Selanjutnya...
Gelap, hening...
----------
Aku terbangun di suatu pagi. Bukan lagi di ruangan putih.
Namun di sebuah kamar di dalam rumah yang begitu asri.
Ku pandangi sekeliling, begitu hidup.
Lalu, aku menoleh ke arah jendela, di sampingnya ada sebuah kaca.
Saat aku berdiri di sana, hanya ada seorang wanita.
Wanita tanpa topeng, tanpa seringai.
Aku menyukainya.
*****


Se Sang
Dokumen Challenge FB Winda Jubaidah

Kita tinggal dalam rawa-rawa
Rawa-rawa punya kita
Penuh, berlumpur dan becek
Jejak kaki, jejak kerbau, jejak bebek

Kita tinggal dalam rawa-rawa
Rawa-rawa dalam nyata
Ada sebangsa belut
Ada sebangsa semut
Mereka ramaikan kita
Mereka gaduhkan dunia

Bila malam menjelang
Petani datang, membentang pukat
Saat fajar datang
Pipit datang, menghisap merang
Mereka peduli kita
Mereka rindukan warna

Kita tinggal dalam rawa-rawa
Rawa-rawa punya kita
Rawa-rawa penuh doa

Se Sang
14 April 2017
Diajukan ke Berau Post untuk publikasi 



Langkah-langkah kecil ku hentakkan, Berjalan aku di sebuah pusaran
Jika jembatan Tuhan ada ujungnya, Maka aku berjalan dalam jembatan Setan
Habis peluh aku berlari,
tak jua ku jumpa akhir perjalanan ini
Aku berjalan dalam pusaran, Tuan
Tiada sesiapa bersamaku selain awan

Dalam deru berat nafas ku
Tiba saat nya aku melihat tiga jalan berliku
Ini benar jembatan Setan, aku berjalan dalam pusaran
Sekali lagi hanya bersama awan

Nafas ku tinggal satu dua
Kaki terpijak tak lagi terasa
Lalu, sebuah suara berkata melembutkan
Aku bertanya suara siapa? rupanya itu Sang Awan
Ia berteriak agar aku terus ke kanan
Aku mendongak, lalu bertanya
Ada apa di sana ?

Suasana hening, tak ada suara
Angin berhembus pelan, sebening mutiara
Burung punai di sana, seakan tau
Bahwa nyiur yang melambai, sedang mencoba merayu sang bakau

Langit lengang
Awan berarak membentuk pusaran
Mentari bersinar meregang
Satu-satu angan terhampar tanpa harapan

Aku mendesah, gelisah
Bagaimana harus ku selesaikan perjuangan ini
Awan yang berbicara itu, tak lagi bersuara
Kemana aku akan melangkah…

Kini aku melewati sebuah hutan rimba
Sunggu kelam, sungguh suram
Sesekali ku tengadahkan wajah pada udara
Mana awan nan berkilau bak pualam
Aku menanti jawaban…






Related image
Ilustrasi (sumber: medianda-news.blogspot.co.id)




Dia, wanita itu, aku mengenalnya saat Ayah membawaku kesana untuk sekedar menghilangkan amarahnya pada Ibu. Wanita cantik, berbadan mungil dan menurutku, ia sungguh berhati besar. Saat itu, yang kutahu, dia Mamaku juga. Lebih tepatnya adalah ia istri pertama Ayah. Aku memanggilnya Mama. Meski telah disakiti, wanita itu masih mau menerima dan memelukku. Dia, wanita itu. Aku menyayanginya juga. Tak pernah suaranya menggelegar meski aku berbuat salah. Halus tutur katanya dan ia pandai memasak.
"Sana bantu mama masak di dapur!" Perintah Ayah membuyarkan lamunanku. Tanpa melawan aku segera menuju dapur membantu Mama. Mama memiliki usaha catering. Setiap pagi ia memasak makanan pesanan sebuah kantor tertentu untuk makanan para karyawan. Terkadang ia juga menerima pesanan dari berbagai acara pernikahan, aqiqah, dan lain-lain. Selain itu, ia juga membuat kue-kue tradisional yang ia titipkan ke beberapa warung tetangga. Itu ia lakukan untuk menambah uang belanja dan memenuhi kebutuhannya bersama kedelapan orang anaknya.
Kemana Ayah? apa sudah meninggal? jawabannya adalah Tidak. Ia masih ada. Hanya saja, Ayah terlalu pelit dan tidak punya rasa tanggung jawab memberi Mama atau Ibuku uang belanja. Jika Mama mencari uang dengan keahliannya memasak, maka Ibuku mencari uang dengan jasa dan kekuatannya menjadi pembantu atau baby sitter. Sementara Ayah, dia lebih suka menghabiskan uang penghasilannya di bar-bar dengan minum-minuman keras bersama wanita penghibur atau pergi berjudi. Saat itu, aku masih terlalu kecil untuk memahami semua urusan ini. Belakangan aku tau, orang-orang mengatakan keluarga ini sungguh berantakan.
Hari itu, hari biasa. Semua berjalan dengan baik-baik saja. Hingga Tuhan melakukan tugas-Nya atas cerita kehidupan Mama. Ia mendapat sebuah musibah kebakaran. Hingga luluh lantak semua harta benda hangus terlalap api. Kebakaran yang cukup besar. Tak ada yang tersisa, kecuali luka dan pedih. Mama hanya bisa menangis, tak mampu berkata-kata. Pasrah akan kehendak yang Kuasa. Meski begitu, ia bersyukur sebab masih diberi keselamatan. Anak-anaknya –yang juga merupakan kakak-kakakku- juga selamat dalam musibah besar itu.
"Rasakan akibat keserakahan kalian!! Kan aku sudah bilang padamu. Rumah ini dijual saja, lalu hasilnya kita bagi dua. Dasar wanita bodoh. Lihat sekarang! semuanya hangus! makan itu arang!!" Cetus ayah berkacak pinggang di antara puing-puing rumah yang sudah menghitam terbakar dan berserakan.
"Ini adalah rumah peninggalan Ibuku, tapi kau tak mau membagi sepeserpun padaku!! Wanita busuk!!" Celotehnya sambil menunjuk-nunjuk wajah mama.
"Maksudmu apa, Hah!? Ibu telah memberi rumah ini untuk cucu-cucunya, yang sudah kau telantarkan dari kecil. "Kemana kau selama aku berpayah merawat ibu saat sakit?" Rintih mama, yang bahkan belum sempat makan sejak musibah itu terjadi.
"Tidak ada yang memintamu berkhianat dan meninggalkan kami. Kenapa kau begitu kejam padaku dan anak-anak."suaranya lemah bercampur suara kletek api yang masih terdengar meski api telah dipadamkan.
"Cih, omong kosong. Kau memang tukang hasud!! Makan itu arang hitam. Aku takkan pernah ikhlas sampai aku dapat bagian! Ingat itu!!" Gerutunya lantas menendang kaleng gosong yang teronggok di situ hingga terpental jauh.
Mama hanya bisa menangis terisak. Hatinya terasa pedih. Ia telah dikhianati, ditinggalkan, dicaci maki, bahkan diinjak lumat harga dirinya. Hatinya yang besar itu, sejenak mengkerut sebab disiram oleh kemarahan dan rasa benci. Sejenak ia membayangkan saat ia berbicara dengan Nenek, ibu dari Ayah dua bulan yang lalu.
"Nak, walau apapun yang terjadi jangan tinggalkan rumah ini. Aku mengikhlaskan nya untukmu dan cucu-cucuku. Maafkan aku karena engkau sudah menderita sebanyak ini. Aku tak menyangka Parman akan memperlakukanmu dengan buruk." Pesan mendiang nenek suatu hari.
"Sering aku memikirkan hari di mana aku meminta ayah mu agar menjodohkanmu dengan Parman. Aku sungguh menyesal, Nak. Aku sama sekali tidak mengira dia akan mengkhianatimu bahkan menyakitimu."Nenek menangis tergugu. Ia telah berbulan-bulan terbaring tak berdaya karena sakit. Mama lah yang justru merawat dan menjaga beliau dengan sabar, meski ia hanya seorang menantu.
            Lamunan Mama segera terhenti kala hujan mulai membasahai bumi. Seolah ia memahami hati seseorang yang tengah terluka. Seolah ingin hujan memberikan pelukan dan kekuatan kala itu. "Ibu, maafkan aku… aku tidak dapat menjaga peninggalan dan amanahmu dengan baik" isak Mama seraya bersujud. Tangisnya begitu memilukan. Sesungguhnya, bukan hanya rumah terbakar itu yang ia tangiskan karena musibah ini semua di luar kemauannya. Namun tingkah dan kata-kata Parman, suaminyalah yang begitu menyakiti hatinya. Ia benar-benar terluka. Pintu maaf dan kesempatan itu tiba-tiba lenyap tanpa bekas.
"Seumur hidupku, takkan pernah kau ku maafkan Parman. Takkan pernah!" Isaknya pilu, Seraya bangun menatap nanar. Airmatanya kembali mengalir deras. Mama memandangi puing-puing rumah yang sudah tak berbentuk itu. Begitu banyak kenangan yang tersimpan di sana. Meski kenangan itu banyak terdapat goresan pedang yang menyayat hatinya.

***

Rumah mungil nan asri itu berdiri di atas tanah yang hangus 5 tahun lalu. Berpagar kayu yang sederhana dan rapi. Sekelilingnya banyak pot-pot bunga yang nampak mekar berwarna-warni. Sungguh ini suasana vintage yang begitu indah. Warna cat pada dindingnya dominan putih. Sementara kusen dan tiang-tiang diberi cat warna hijau muda. Selain itu ada aksen strip berwarna coklat, yang memberi kesan ramah.
Kuketuk pelan pintu bercat putih itu. Seperti biasa di hari Idul Fitri begini, aku selalu menyempatkan diri mengunjunginya. Mamaku, Istri pertama ayah.
"Oh, Cindy... masuk nak, masuk sini masuk..." sapanya ramah seraya menyambutku bahagia. 
Masih cantik, pikirku. Meski usia dan gurat kepedihan terlihat jelas di sisi mata dan beberapa bagian wajahnya. Namun Mama tetap anggun dan tentu saja, ramah.
"Kok sepi, Ma?" tanyaku heran.
"Iya nih, Cuma Mama sendirian. Kakak-kakakmu kan sudah berkeluarga semua, jadi Mama sendirian di sini. Kadang Mama yang ke rumah mereka untuk bermalam atau menjaga cucu." Ucapnya sambil tertawa.
"Kamu kesini sendirian lagi? kapan bawa calon?" selorohnya menggodaku.
"Ah, Mama. Belum waktunya." Ucapku tersenyum malu. Ia tertawa geli melihat tingkahku.
"Eh, kamu makan ya, mama buat lontong sayur loh..." ucapnya penuh keibuan.
"Makanya aku sengaja ke sini pagi, Ma. Nyari Lontong." sahutku girang.
Obrolan pun mengalir begitu saja di antara kami. Jika dilihat dari jauh bagai seorang anak kandung yang bercengkerama dengan ibunya. Memang benar, hanya saja kami tidak sedarah. Menjelang akan pulang, aku pun bertanya padanya tentang ayah. "Jadi, Mama beneran gak mau maafin ayah?" Tanyaku hati-hati.
"Tidak akan. Maafkan mama Cindy. Rasa sakit mama terlalu dalam, hati mama tak cukup besar untuk menanggungnya. Cukuplah mama telah mau menerima kalian anak-anaknya. Tapi untuk Ayahmu dan Ibumu, Mama tidak bisa membuka hati ini." jelasnya pilu, sambil menatap nanar pada dinding rumah itu. "Biarlah Allah yang menilai, Biarlah Dia yang menentukan yang terbaik. Mama sungguh tidak bisa menghadirkan pintu maaf itu. Maafkan Mama, Nak..." lanjutnya.
Aku hanya bisa mengangguk diam. Menatapnya sebentar, lalu menekuri lantai yang berbalut karpet hijau sendu. Lama kami terdiam tenggelam oleh pikiran masing-masing.
"Kemarin ayahmu kemari. Mama gak buka pintu." ucapnya memecah keheningan.
"Tau gak, kemaren Mama pas banget baru pulang dari rumah tante bawa ikan. Gara-gara dia datang, ikan itu Mama taruh trus langsung keluar dari pintu belakang. Ikannya sampe busuk, lupa dimasukin dalam kulkas," paparnya sambil tertawa. Kecanggungan yang tadi tercipta seakan lenyap begitu saja.
            Akupun pulang setelah bercakap-cakap dengannya. Tak lupa membawa satu rantang lontong sayur buatan Mama. Dalam perjalanan pulang aku menerawang, sesekali memandangi langit syahdu hari itu. Awan-awan beriring mengambang. Sesaat berbentuk kelinci, ada juga berbentuk gajah, selanjutnya berbentuk bulat-bulat kecil seperti sekumpulan ikan yang berenang.
MAAF, kata yang begitu sederhana. Namun butuh hati yang kuat dan keras untuk dapat menyematkannya di sana. Memaafkan, adalah kata-kata yang mudah terucapkan. Namun, ketika hati telah tertusuk dan berdarah-darah. Ketika airmata deras mengalir mengucurkan duka. Maka, ketika itu pula lidah menjadi kelu dan terbata saat mengucapkannya. Mungkin ada orang yang memang layak dimaafkan dan diberi kesempatan. Mungkin ada juga orang yang layak diberi kesempatan tanpa kata maaf atau sebaliknya hanya mendapatkan kata maaf tanpa sebuah kesempatan kedua. Dalam pandanganku, Ayah adalah jenis yang tak layak mendapatkan maaf dan kesempatan dari Mama, meski ia sudah berlutut meminta.
Dia, wanita itu. Wanita lugu yang tak pernah mengomeliku. Aku mengenalnya saat Ayah berkelahi dengan Ibu. Wanita yang begitu ramah. Di balik semua kisah hidupnya, mungkin Tuhan memiliki rencana dan skenario tersendiri yang sesiapapun tidak tahu akan akhirnya bahkan malaikat sekalipun. Wanita itu, aku menghormatinya melebihi dari siapapun.

Se Sang
08 April 2017
Dipublikasikan dalam Rubrik Lipstik di Koran Berau Post
edisi Minggu 16 April 2017 
Postingan Lebih Baru Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

Categories

  • Artikel 2
  • Cerpen 3
  • Flash Fiction 1
  • Puisi 3

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Foto saya
Winda Jubaidah
Berau, Kalimantan Timur, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  Juli (2)
  • ▼  2017 (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ▼  April (4)
      • The Reflecion
      • Rawa-rawa
      • Kala Awan Berbicara
      • Wanita Pertama yang Tersakiti

Blog Archive

  • ►  2020 (2)
    • ►  Juli (2)
  • ▼  2017 (7)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ▼  April (4)
      • The Reflecion
      • Rawa-rawa
      • Kala Awan Berbicara
      • Wanita Pertama yang Tersakiti

Categories

Facebook

Translate

Advertising

Follow Us

  • 114followers
  • 0followers
  • 0likes
  • 0followers
  • 0subscribers
  • 266followers

Chit-chat

Popular

  • Sepenggal Hati yang Tersisa
  • RUANG BIRU
  • Kala Awan Berbicara

Popular Posts

  • Sepenggal Hati yang Tersisa
  • RUANG BIRU
  • Kala Awan Berbicara
  • Wanita Berpipi Kemerahan

Labels

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template